SFA dan JAPFA Teken Nota Kesepahaman, Fokus Deteksi Dini Penyakit dan Budidaya Berbasis Data

• 2026-10-30

SFA dan JAPFA Teken Nota Kesepahaman, Fokus Deteksi Dini Penyakit dan Budidaya Berbasis Data

Singapore Food Agency (SFA) dan Japfa Pte. Ltd (JAPFA) menandatangani nota kesepahaman di Singapura pada 27 Oktober 2026 untuk menjajaki kemitraan riset dan pengembangan di bidang akuakultur tropis. Kerja sama ini berfokus pada dua bidang, yaitu kesehatan organisme akuatik beserta pengelolaan penyakit, dan pemanfaatan teknologi digital. Ruang lingkup yang berpotensi dikembangkan mencakup pemantauan dan diagnosis penyakit berbasis kecerdasan buatan, pengambilan keputusan budidaya berbasis data, serta sistem ketertelusuran. JAPFA menjalankan lini bisnis akuakulturnya melalui PT Suri Tani Pemuka (STP), sehingga hasil kerja sama ini berpotensi sampai ke tambak dan kolam pembudidaya di Indonesia.

Perlu dicatat sejak awal, nota kesepahaman adalah tahap penjajakan, bukan peluncuran produk. Yang disepakati adalah kerangka untuk bekerja sama, sedangkan bentuk konkret solusinya masih akan dikembangkan. Meski begitu, arah yang dipilih cukup menjelaskan ke mana industri akuakultur bergerak.

Dua bidang yang menjadi fokus

Bidang pertama adalah kesehatan organisme akuatik dan pengelolaan penyakit. Ini bukan pilihan yang mengejutkan. Pada budidaya udang maupun ikan, penyakit tetap menjadi penyebab kerugian terbesar yang paling sulit diperkirakan, dan kerugiannya sering baru terbaca ketika sudah terlambat ditangani.

Bidang kedua adalah pemanfaatan teknologi digital. Di sini disebutkan tiga hal yang berpotensi dikembangkan, yaitu pemantauan dan diagnosis penyakit berbasis kecerdasan buatan, pengambilan keputusan budidaya yang berpijak pada data, serta sistem ketertelusuran atau traceability yang memungkinkan asal-usul produk ditelusuri dari tambak sampai meja makan.

Pintunya juga dibuka lebih lebar. Lembaga riset, pengembang teknologi, dan pelaku industri di Singapura diundang ikut membangun solusinya, terutama yang memungkinkan penyakit dan risiko lingkungan terbaca sejak awal, sekaligus membuat pengelolaan budidaya lebih efisien.

Kenapa deteksi dini menjadi pusat perhatian

Bagi pembudidaya, bagian paling menarik dari kerja sama ini adalah kata dini.

Selama ini sistem deteksi diarahkan untuk memastikan penyakit yang sudah ada. Sampel dikirim, hasil ditunggu, dan ketika jawabannya datang sebagian kerugian biasanya sudah terjadi. Pada kasus seperti kematian dini udang, selisih dua atau tiga hari dalam memastikan penyebab sering menentukan apakah satu petak masih bisa diselamatkan atau harus dipanen darurat.

Pendekatan yang sedang dikembangkan bergeser ke arah lain, yaitu mengenali indikator awal bahwa organisme mulai tertekan, sebelum penyakitnya terbentuk. Sifatnya memperkirakan, bukan memastikan. Perbedaannya besar di lapangan, karena tindakan pencegahan selalu jauh lebih murah daripada penanganan wabah.

Gejala awal yang menandakan udang mulai tertekan sebenarnya sudah dikenal pembudidaya berpengalaman, misalnya nafsu makan yang turun tanpa sebab jelas, usus yang terlihat kosong, atau hepatopankreas yang memucat. Daftar gangguan yang umum ditemui beserta cara mengenalinya bisa ditelusuri lewat ulasan penyakit udang vaname. Yang ditawarkan teknologi adalah kemampuan membaca tanda-tanda itu lebih cepat, lebih konsisten, dan pada skala yang lebih besar daripada pengamatan manual.

Posisi STP dalam kerja sama ini

Dalam siaran pers tersebut, STP disebut sebagai penyedia solusi total dalam akuakultur yang mengintegrasikan manufaktur pakan, pembenihan, dukungan laboratorium teknis, serta inovasi budidaya digital. Keempat bagian itu menjelaskan mengapa STP relevan bagi kerja sama yang membahas kesehatan dan digitalisasi.

Pada sisi pembenihan, STP memproduksi benur Super PL yang dipelihara hingga fase PL30 dari induk SPF F1 di hatchery dengan langkah biosekuriti dan sistem karantina yang ketat. Mutu benih adalah titik awal yang menentukan seluruh siklus, dan acuan memilihnya dibahas pada panduan benur udang vaname.

Pada sisi pakan, rangkaian STP disusun bertingkat mengikuti fase udang sehingga kadar protein bisa dicocokkan dengan kebutuhan di tiap tahap, dan pembahasannya tersedia pada ulasan pakan udang vaname. Pakan berperan dua arah di konteks kesehatan, yaitu menopang daya tahan udang sekaligus menentukan seberapa besar beban bahan organik yang masuk ke air.

Pada sisi laboratorium, STP menjalankan layanan Mobile Diagnostic Lab yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan langsung di lokasi budidaya, sehingga hasilnya tidak perlu menunggu sampel dikirim jauh. Inilah bagian yang paling dekat dengan agenda deteksi dini dalam nota kesepahaman tersebut.

Apa kata kedua-belah pihak?

Damian Chan, Chief Executive Officer SFA, menekankan bahwa riset baru bernilai ketika hasilnya terpakai. “Nilai dari riset dan pengembangan terletak pada kemampuan menerjemahkan inovasi ilmiah menjadi solusi praktis yang dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya. Ia menambahkan, perpaduan kemampuan riset Singapura dengan keahlian operasional dan skala bisnis JAPFA diharapkan mempercepat penerapan solusi di bidang kesehatan organisme akuatik, manajemen penyakit, dan akuakultur digital.

Dari pihak JAPFA, Gabriella Santosa, Direktur sekaligus Chief Operating Officer Corporate Shared Services Japfa Pte. Ltd., menyoroti pentingnya riset yang menempel pada kenyataan produksi. “Kemajuan akuakultur akan memberikan hasil terbaik ketika riset berjalan beriringan dengan kegiatan produksi dan didasarkan pada pemahaman yang kuat terhadap kondisi di lapangan,” katanya. Menurutnya, produksi pangan berskala besar di kawasan ini menuntut pendekatan yang menyesuaikan diri dengan kondisi setempat sekaligus ditopang teknologi mutakhir.

Dua pernyataan itu menunjuk ke arah yang sama, yaitu riset yang diuji pada kondisi budidaya sesungguhnya, bukan hanya di laboratorium. Ini juga alasan mengapa karakter tropis menjadi penekanan. Suhu, salinitas, dan tekanan penyakit di kawasan tropis berbeda dari wilayah subtropis tempat sebagian besar teknologi akuakultur dikembangkan.

Apa artinya bagi pembudidaya di Indonesia

Dalam jangka pendek, belum ada yang berubah di tambak. Nota kesepahaman masih berupa kerangka kerja sama, dan solusi yang dibahas masih akan dikembangkan.

Dalam jangka menengah, ada dua hal yang layak diantisipasi. Pertama, sistem pemantauan yang semakin bertumpu pada data akan menuntut pembudidaya terbiasa mencatat. Teknologi apa pun hanya bisa membaca pola bila ada datanya, sehingga catatan harian berisi kualitas air, jumlah pakan, dan perilaku udang menjadi aset yang nilainya naik. Kedua, spesifikasi pakan dan benih berpeluang semakin disesuaikan dengan kondisi lokasi, karena karakter air dan tekanan penyakit di tiap kawasan memang berbeda.

Yang bisa dikerjakan sekarang justru hal-hal dasar yang tidak menunggu teknologi apa pun, yaitu menjaga kepadatan tebar sepadan dengan kapasitas aerasi, mengendalikan takaran pakan agar dasar kolam tidak cepat kotor, serta memeriksa oksigen terlarut menjelang subuh dan bukan hanya siang hari. Dasar pengelolaan selengkapnya bisa ditelusuri lewat panduan budidaya udang vaname.

FAQ

Apa isi nota kesepahaman SFA dan JAPFA?

Kesepakatan untuk menjajaki dan mengembangkan kemitraan riset dan pengembangan di bidang akuakultur tropis, dengan dua fokus yaitu kesehatan organisme akuatik beserta pengelolaan penyakit, dan pemanfaatan teknologi digital. Ditandatangani di Singapura pada 27 Oktober 2026.

Apa hubungannya dengan STP?

JAPFA menjalankan lini bisnis akuakulturnya melalui PT Suri Tani Pemuka. Dalam siaran pers tersebut, STP disebut mengintegrasikan manufaktur pakan, pembenihan, dukungan laboratorium teknis, dan inovasi budidaya digital, sehingga menjadi titik temu antara riset dan penerapan di lapangan.

Apakah sudah ada teknologi yang bisa dipakai pembudidaya sekarang?

Belum. Nota kesepahaman adalah tahap penjajakan, dan bentuk solusinya masih akan dikembangkan. Yang sudah tersedia saat ini adalah layanan pendampingan teknis dan pemeriksaan laboratorium di lokasi budidaya.

Share Article:

Other Articles