Parasit pada ikan adalah organisme yang hidup menumpang di tubuh ikan dan mengambil nutrisi dari inangnya. Di kolam budidaya air tawar Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah Trichodina, Dactylogyrus, Gyrodactylus, Ichthyophthirius multifiliis atau penyebab bintik putih, serta kutu ikan Argulus. Gejalanya cukup khas, yaitu ikan menggosokkan badan ke dasar atau dinding kolam, berenang dekat permukaan, nafsu makan turun, lendir di tubuh bertambah, dan pada kasus bintik putih muncul titik-titik seukuran butir garam di kulit dan sirip. Penanganannya bertumpu pada tiga hal, yaitu memastikan jenis parasitnya lewat pemeriksaan mikroskop, memperbaiki kualitas air dan kepadatan tebar, lalu melakukan pengobatan berulang sesuai siklus hidup parasit karena pengobatan yang dilakukan sesekali hampir selalu gagal.
Yang perlu dipahami sejak awal, parasit hampir selalu ada di kolam dalam jumlah kecil tanpa menimbulkan masalah. Yang membuatnya berubah menjadi wabah adalah kondisi yang menekan daya tahan ikan. Karena itu penanganan parasit lebih banyak berurusan dengan memperbaiki lingkungan daripada sekadar menuang obat.
Kenapa parasit mudah meledak di kolam budidaya
Di alam, ikan hidup dalam kepadatan rendah dengan air yang terus berganti. Di kolam budidaya keduanya berubah. Ikan berdesakan dalam ruang terbatas sehingga parasit mudah berpindah antar ikan, dan gesekan antar tubuh menimbulkan luka kecil yang menjadi pintu masuk.
Sebagai contoh: Penelitian pada ikan koi yang dilakukan Elisafitri bersama tim dari Universitas Airlangga dan terbit di IOP Conference Series tahun 2021 menunjukkan fakta yang cukup jelas. Kolam keramba dengan kepadatan paling tinggi, yaitu 150 ekor per meter persegi, mencatat prevalensi Trichodina 80 persen dan Dactylogyrus 60 persen. Peneliti mengaitkannya dengan dua hal, yaitu limbah bahan organik yang lebih banyak sehingga kualitas air menurun, serta kontak antar ikan yang lebih sering sehingga luka kulit lebih mudah terjadi.
Menariknya, kolam berkepadatan lebih rendah pada penelitian yang sama justru menemukan lebih banyak jenis parasit tetapi dengan serangan yang lebih ringan. Artinya kepadatan tidak menentukan parasit mana yang hadir, melainkan seberapa parah serangannya.
Jenis parasit yang paling sering ditemukan
Trichodina. Protozoa bersilia berbentuk seperti cakram yang menempel di kulit dan insang. Ini jenis yang paling sering muncul pada benih. Penelitian Yuliani, Pratiwi, dan Yulistiana yang terbit di jurnal Biota pada Februari 2023 memeriksa 15 benih nila dan 15 benih lele berukuran 5 sampai 6 cm di Balai Benih Ikan (BBI) Ciganjur. Hasilnya, Trichodina ditemukan pada 86,6 persen benih lele dan 66,6 persen benih nila.
Ichthyophthirius multifiliis. Penyebab penyakit bintik putih, dan paling mudah dikenali karena titik-titik putih seukuran butir garam di kulit dan sirip. Pada penelitian yang sama, parasit ini ditemukan pada 66,6 persen benih lele. Jenis ini layak mendapat perhatian khusus karena siklus hidupnya menentukan cara pengobatannya, dan hal itu dibahas di bagian berikutnya.
Dactylogyrus dan Gyrodactylus. Keduanya cacing pipih berukuran sangat kecil. Dactylogyrus umumnya menyerang insang, sedangkan Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Pada penelitian di Ciganjur, Dactylogyrus ditemukan pada 6,6 persen benih nila. Angka itu terlihat kecil, tetapi serangan pada insang berbahaya karena langsung mengganggu pernapasan ikan.
Argulus atau kutu ikan. Parasit ini cukup besar sehingga terlihat mata telanjang sebagai bintik pipih kehijauan yang bergerak di tubuh ikan. Ia mengisap darah dan meninggalkan luka terbuka yang mudah terinfeksi bakteri.
Gejala yang bisa dikenali tanpa alat
Gejala paling awal justru bukan pada tubuh ikan, melainkan pada perilakunya. Ikan yang terganggu parasit akan menggosokkan badan ke dasar atau dinding kolam, berenang gelisah dekat permukaan, atau mengumpul di satu sudut. Setelah itu baru muncul tanda pada tubuh, yaitu lendir berlebih yang membuat kulit terlihat keruh, sirip yang mengatup atau robek, dan nafsu makan yang turun.
Satu hal penting yang sering disalahpahami, bintik putih tidak selalu muncul meski parasitnya ada. Panduan dari University of Florida Institute of Food and Agricultural Sciences mencatat bahwa pada infeksi yang hanya menyerang insang, bintik putih bisa sama sekali tidak terlihat. Yang tampak justru insang yang pucat dan membengkak, dan kematian bisa terjadi dalam jumlah besar. Sebaliknya, bintik putih saja juga tidak cukup untuk memastikan diagnosis, karena beberapa gangguan lain memberi tampilan serupa. Pemeriksaan di bawah mikroskop pada kerokan lendir kulit atau potongan insang tetap diperlukan untuk memastikan.
Kenapa pengobatan sekali hampir selalu gagal
Ini bagian yang paling sering menjadi sumber kekecewaan pembudidaya. Obat diberikan, ikan terlihat membaik beberapa hari, lalu gejalanya kembali dan dianggap obatnya tidak manjur. Penjelasannya ada pada siklus hidup parasit.
Pada Ichthyophthirius multifiliis, siklusnya terbagi menjadi beberapa tahap. Tahap trophont adalah parasit dewasa yang berada di bawah kulit atau di permukaan insang. Tahap tomont terjadi ketika parasit melepaskan diri dari ikan lalu membentuk kista berlendir di dasar kolam. Di dalam kista itu parasit memperbanyak diri menjadi ratusan anakan, yang kemudian berenang bebas mencari inang baru pada tahap theront.
Kuncinya, hanya tahap theront yang terbuka terhadap bahan pengobatan. Trophont terlindung oleh lapisan kulit dan lendir ikan, sedangkan tomont terlindung oleh dinding kistanya. Karena itu satu kali pengobatan hanya membunuh parasit yang kebetulan sedang berenang bebas saat itu, sementara yang tersembunyi tetap selamat dan muncul beberapa hari kemudian.
Kecepatan siklus ini bergantung pada suhu air. Panduan yang sama mencatat seluruh siklus selesai dalam sekitar tiga sampai enam hari pada suhu sekitar 24 sampai 26 derajat Celsius, dan pembelahan di dalam kista dapat terjadi hanya dalam 18 sampai 24 jam pada suhu 23 derajat. Pada air yang lebih dingin, siklusnya memanjang. Inilah sebabnya pengobatan perlu diulang beberapa kali dengan jarak yang mengikuti suhu air, bukan sekali lalu selesai.
Langkah penanganan yang masuk akal
Langkah pertama adalah memastikan penyebabnya. Mengobati tanpa tahu jenis parasitnya berisiko memakai bahan yang tidak sesuai sekaligus membuang biaya. Pemeriksaan mikroskop pada kerokan lendir dan potongan insang adalah cara yang paling pasti. Layanan Mobile Diagnostic Lab dari STP memungkinkan pemeriksaan semacam ini dilakukan langsung di lokasi budidaya, sehingga hasilnya tidak perlu menunggu sampel dikirim jauh.
Langkah kedua adalah memperbaiki penyebab yang membuat parasit meledak, yaitu menurunkan kepadatan bila berlebih, memperbaiki kualitas air, menyipon dasar kolam, dan memastikan pasokan oksigen mencukupi terutama menjelang subuh. Tanpa langkah ini, pengobatan apa pun hanya menunda masalah.
Langkah ketiga baru pengobatan, dan dilakukan berulang sesuai siklus hidup parasit. Soal jenis bahan dan takarannya, mintalah panduan dari petugas Balai Perikanan Budidaya setempat atau pendamping teknis, karena dosis yang tepat sangat bergantung pada jenis dan ukuran ikan, suhu air, serta volume kolam. Takaran yang keliru dapat lebih merugikan daripada parasitnya sendiri.
Langkah keempat adalah memisahkan ikan yang sakit bila memungkinkan, serta tidak memakai peralatan secara bergantian antarkolam tanpa pencucian. Jaring dan ember adalah jalur penularan yang paling sering terlupakan.
Pencegahan selalu lebih murah
Pencegahan dimulai dari persiapan kolam sebelum tebar, yaitu mengeringkan dasar, mengangkat lumpur sisa siklus sebelumnya, dan melakukan sterilisasi dasar beserta peralatan. Untuk tahap ini, Perosolv dari STP yang memadukan nano silver dengan hidrogen peroksida dapat dipakai menekan jamur, bakteri, dan biofouling pada dasar dan peralatan kolam, dengan dampak lingkungan yang relatif kecil. Perlu dicatat, bahan ini untuk sterilisasi kolam dan peralatan, bukan untuk diberikan langsung pada ikan. Anda juga dapat melihat beberapa inovasi produk untuk budidaya ikan dan udang dari STP.
Berikutnya, saring air masuk, karantina ikan baru sebelum digabungkan, dan jaga kepadatan tebar tetap sepadan dengan kemampuan aerasi. Terakhir, daya tahan ikan sangat ditentukan oleh gizi. Ikan yang kekurangan gizi lebih mudah terserang dan lebih lambat pulih, sehingga memastikan kadar protein pakan sesuai jenis dan fase ikan adalah pencegahan yang sering diremehkan. Pembahasannya tersedia pada ulasan pakan ikan nila serta rangkaian pakan ikan budidaya untuk komoditas lain. Bagi yang juga membudidayakan udang, pola pencegahan serupa bisa dibandingkan lewat ulasan penyakit udang vaname.
FAQ
Apa ciri ikan yang terkena parasit?
Gejala paling awal terlihat pada perilaku, yaitu ikan menggosokkan badan ke dasar atau dinding kolam, berenang gelisah dekat permukaan, dan mengumpul di satu sudut. Setelah itu muncul lendir berlebih, sirip mengatup atau robek, nafsu makan turun, dan pada kasus bintik putih muncul titik seukuran butir garam di kulit dan sirip.
Kenapa bintik putih kembali muncul setelah diobati?
Karena hanya tahap berenang bebas dari parasit yang terbuka terhadap pengobatan. Parasit yang berada di bawah kulit ikan terlindung oleh lendir, sedangkan yang berada di dasar kolam terlindung oleh dinding kista. Pengobatan perlu diulang beberapa kali dengan jarak mengikuti suhu air agar parasit yang baru menetas ikut tertangani.
Apakah parasit ikan bisa menular ke manusia?
Parasit yang dibahas di artikel ini, yaitu Trichodina, Dactylogyrus, Gyrodactylus, Ichthyophthirius, dan Argulus, adalah parasit khusus ikan dan tidak menyerang manusia. Meski begitu, kebersihan tetap perlu dijaga saat menangani ikan sakit, dan ikan yang mati sebaiknya tidak dikonsumsi karena kematiannya bisa disertai infeksi bakteri.








































