• 2026-09-23

Pakan ikan apung adalah pakan berbentuk pelet yang mengapung di permukaan air. Pelet ini dibuat dengan cara dimasak pada suhu tinggi, sebuah proses yang disebut ekstrusi, sehingga adonannya mengembang, berongga, dan menjadi ringan. Kebalikannya adalah pakan tenggelam, yang dibuat dengan cara dipadatkan tanpa dimasak panas sehingga lebih berat dan langsung turun ke dasar kolam. Singkatnya, pakan apung paling cocok untuk ikan yang biasa makan di permukaan seperti nila dan lele, sebab pembudidaya bisa langsung melihat nafsu makan ikan dan sisa pakannya. Pakan tenggelam lebih pas untuk ikan yang makan di dasar kolam seperti udang. Jadi, pakan yang terbaik bukan soal mana yang lebih hebat, melainkan mana yang paling cocok dengan jenis ikan, kebiasaan makannya, dan kondisi kolam Anda.
Salah memilih bentuk pakan terdengar sepele, tetapi dampaknya nyata pada biaya. Pakan menyumbang sekitar 60 sampai 70 persen dari total biaya budidaya. Artinya, pakan yang tidak dimakan bukan hanya membuang uang, tetapi juga mengotori air dan menghambat pertumbuhan ikan. Artikel ini menjelaskan beda keduanya, kapan sebaiknya memakai yang mana, dan cara memilih yang paling pas untuk kolam Anda.
Perbedaan paling mendasar sebenarnya lahir di pabrik. Pakan apung dibuat lewat proses ekstrusi. Adonan bahan baku dimasak pada suhu tinggi, lalu dikeringkan. Proses ini membuat pelet mengembang dan berongga sehingga ringan dan bisa bertahan mengapung di permukaan selama beberapa waktu. Pakan tenggelam biasanya dibuat dengan mesin press pada suhu yang lebih rendah. Hasilnya, pelet menjadi padat dan cepat turun ke dasar.
Pakan apung cenderung lebih tahan di air sehingga tidak cepat hancur. Sebagian gizinya juga lebih mudah dicerna ikan berkat proses pemasakan tadi. Pakan tenggelam umumnya lebih murah dan cocok untuk kebutuhan tertentu, tetapi jauh lebih sulit dipantau begitu berada di dasar kolam.
Kunci pertama adalah mengenali cara ikan makan. Ikan yang suka naik ke permukaan atau mencari makan di tengah air, seperti nila, ikan mas, lele dan gurami, sangat cocok dengan pakan apung. Umumnya ikan (contoh: lele) yang diberi pakan apung responsnya cukup terlihat jelas saat menyambar di permukaan. Hal ini memudahkan pemantauan sepanjang masa pemeliharaan, seperti dijelaskan dalam panduan budidaya ikan lele dari bibit hingga panen.
Sebaliknya, ada ikan dan hewan air yang memang mencari makan di dasar. Contoh paling jelas adalah udang, yang makan di dasar tambak sehingga membutuhkan pakan tenggelam. Sebagian ikan dasar, atau ikan yang memiliki kebiasaan makan enggan naik ke permukaan, juga lebih terbantu oleh pakan tenggelam. Memaksakan pakan apung pada ikan pemakan dasar hanya akan membuat pelet menggantung di permukaan tanpa tersentuh dan jadi tidak efektif.
Inilah alasan banyak pembudidaya ikan air tawar lebih memilih pakan apung. Karena pelet terlihat di permukaan, Anda bisa langsung mengamati seberapa lahap ikan makan dan berapa banyak yang tersisa. Begitu ikan mulai melambat menyambar pakan, Anda tahu sudah waktunya berhenti memberi makan.
Kemampuan membaca respons makan ini berdampak langsung pada efisiensi. Pemberian pakan yang pas menekan pemborosan dan mengurangi sisa pakan yang membusuk di dasar. Ujungnya, angka FCR ikut membaik. FCR atau Feed Conversion Ratio adalah perbandingan antara jumlah pakan yang dihabiskan dan bobot ikan yang dihasilkan. Semakin sedikit pakan yang terbuang, semakin hemat biaya untuk setiap kilogram ikan yang dipanen. Jika Anda belum terbiasa menghitungnya, panduan cara menghitung Feed Conversion Ratio (FCR) bisa menjadi awal yang baik. Air kolam pun cenderung lebih bersih karena limbah pakan berkurang.
Pakan apung bukan jawaban untuk semua keadaan. Untuk hewan yang makan di dasar seperti udang, pakan tenggelam adalah pilihan wajib, bukan sekadar alternatif. Bentuk pakan ini juga cocok untuk ikan yang cenderung menghindari permukaan, misalnya saat siang hari yang terik atau di kolam yang minim naungan.
Sistem budidaya juga ikut menentukan. Pada kolam yang dalam atau tambak berarus, pakan apung mudah hanyut lalu menumpuk di tepi kolam, jauh dari jangkauan ikan. Di kondisi seperti ini, pakan tenggelam menyebar lebih merata dan mengurangi pakan yang terbuang.
Selain jenis ikan, kondisi kolam ikut menentukan pilihan. Kolam yang dangkal dan tenang ideal untuk pakan apung karena pelet mudah terlihat dan dijangkau ikan. Sebaliknya, kolam dalam dengan arus kuat atau angin kencang membuat pakan apung terombang-ambing dan sulit dipantau.
Aerator atau kincir yang membuat arus di permukaan juga bisa mendorong pelet apung menepi sebelum sempat dimakan. Bila kolam Anda berangin atau berarus deras, atur titik dan waktu pemberian pakan dengan lebih cermat, atau pilih pakan tenggelam supaya sebarannya lebih terkendali.
Sebelum memutuskan, perhatikan beberapa hal praktis berikut:
Untuk memudahkan, sebagian produsen menyediakan kedua bentuk sekaligus. STP, produsen pakan akuakultur yang sudah beroperasi sejak 1987 dan menjadi bagian dari JAPFA, membuat aneka pakan dalam bentuk apung maupun tenggelam yang disesuaikan dengan jenis ikan dan fase budidaya. Anda bisa menelusuri pilihannya lewat rangkaian pakan ikan budidaya terbaik dari STP dan mencocokkannya dengan kebutuhan kolam.
Tidak ada perbedaan mutlak antara keefektifan pakan apung dan pakan tenggelam. Pakan apung unggul untuk ikan pemakan permukaan seperti nila dan lele karena memudahkan pemantauan nafsu makan, menekan pemborosan, dan menjaga FCR tetap efisien. Pakan tenggelam menjadi pilihan tepat untuk udang, ikan pemakan dasar, serta kolam yang dalam atau berarus. Cocokkan bentuk pakan dengan jenis ikan dan kondisi kolam, maka pakan akan lebih banyak berubah menjadi daging ikan ketimbang menjadi limbah.
Tidak selalu. Pakan apung memudahkan pemantauan nafsu makan dan cocok untuk ikan pemakan permukaan seperti nila dan lele. Namun, untuk udang dan ikan pemakan dasar, atau untuk kolam yang dalam dan berarus, pakan tenggelam justru lebih tepat karena bisa menjangkau ikan sampai ke dasar.
Boleh, tetapi lele umumnya lebih mudah dikelola dengan pakan apung karena respons makannya terlihat jelas di permukaan. Kondisi ini memudahkan pembudidaya berhenti memberi pakan saat ikan mulai kenyang sehingga pakan tidak banyak terbuang.
Pakan apung yang berkualitas bisa bertahan mengapung tanpa cepat hancur di air, ukuran peletnya seragam, dan komposisinya sama dari karung ke karung. Daya apung dan ketahanan yang baik menandakan proses pembuatan yang benar dan kandungan gizi yang lebih terjaga.